Postingan

Answer

Bulan Juni kemarin terasa sangat banyak berkah dan rahmat (as always). Terima kasih kepada Allah SWT berkat kuasa-Nya alhamdulillah aku lulus beasiswa LPDP tahap 1 tahun 2026. Segala waktu. pikiran, tenaga yang aku curahkan selama proses seleksi, alhamdulillah Allah beri hasil terbaik.  Sebenarnya, aku tidak terlalu berekspektasi untuk lulus beasiswa kemarin. Tujuan awal aku apply LPDP tahap 1 hanya untuk mengenali medan, karena tahun 2026 ini adalah tahun pertama aku serius dalam mengejar beasiswa dan studi lanjut. Dengan zero expectation , aku ikuti semua alurnya. Lolos seleksi administrasi, lolos seleksi bakat skolastik, hingga akhirnya lolos seleksi substansi. Penguman tanggal 22 Juni kemarin meski sangat ngaret, lebih dari jam 11 malam, akhirnya berbuah manis. Karena meskipun aku tidak men- setting harapan tinggi, tetap saja aku menunggu dan berandai-andai untuk lulus. Aku cek berkala tiap beberapa jam, hingga mengerucut menjadi beberapa menit. Dan ketika aku melihat keteranga...

May... Maybe Yes

Gambar
Sebulan  ke belakang jam tidurku kacau. Antara sibuk atau sok sibuk, tapi kalau kata Ghaida sibuk itu gak ada. Yang ada adalah manajemen waktu yang buruk. Baiklah. Sekarang ini aku mulai menerapkan prinsip "selagi gratis, ambil". Ada course gratis, isinya cocok sama minatku, ambil. Tapi karena siang harus kerja, jadi ada revisi sedikit; " selagi gratis dan malam, ambil ". Akhirnya aku ambil 2 course ngoding python yang waktu meetingnya malam-malam. 1. Code in Place Ini program belajar ngoding beneran dari 0 banget (YUP inilah yang sy butuhkan). Penyelenggaranya dari Stanford University . Disitu aku belajar cara kerja bahasa pemrograman pakai analogi Karel dulu, lalu setelah itu baru diperkenalkan ke bahasa pythonnya. Untuk aku yang amnesia algoritma dan pemrograman, course ini sangat esensial. Total 6 minggu, belajar pythonnya mulai dari control flow, grafik, dan data. Materi dasar. Ada video penjelasan, contoh problem & solusi, dan ada juga challenge untuk dis...

Support System

 Hi! Hari minggu kemarin aku menyelesaikan rangkaian Votes 2nd Chapter. 3 minggu belajar speaking dan mendapat insight   seputar speaking yang bagus. Aku gak cuma jawab pertanyaan tetapi aku juga harus menyiapkan jawaban untuk satu tema besar yang durasi jawabannya sekitar 5 menit. Di chapter ini sangat dianjurkan untuk saling berinteraksi, jadi aku memaksa diri buat terlibat dalam obrolan. Cukup menantang, sebab aku tipe yang pasif kalau berada dalam obrolan bersama orang yang belum terlalu dekat. Tapi aku belajar. Hal yang paling aku sadari, ternyata dalam berbicara bahasa Inggris aku jarang menggunakan ekspresi yang mengapresiasi, misal "that was a really nice answer" "our group is really amazing" "thank you for your brilliant idea" "that was very scintillating" dan masih banyak lagi. Respon standarku: "oke, thank you, yes, right, i agree with you, ..." dan sebagainya. Dari sini aku belajar untuk menanamkan apresiasi terhadap lawan...

Sedikit Demi Sedikit

Februari gedebak-gedebuk. Guess what? Akhirnya aku berhasil apply beasiswa! Lumayan berat ternyata, termasuk harus melawan ketidakyakinan diri sendiri. Tapi kesimpulan kali ini, coba aja dulu. Yaudah, yang penting dicoba. Persiapannya dimatangkan biar hasilnya sesuai usaha. Insya Allah salah satu langkah awal untuk menciptakan masa depan yang selalu aku mimpikan.  Setelah sekian lama pintunya dibuka, kali ini aku bisa melangkahkan kaki keluar. Self development bulan ini cukup mantap. Aku ikut komunitas untuk melatih speaking bahasa Inggris. Ya emang tujuannya biar nanti kalau nyoba tes IELTS udah terbiasa speaking . Tes IELTS-nya juga kan untuk syarat masuk kampus. Aku ikut Votes Indonesia batch 1, kegiatannya 3 minggu latihan speaking. Akhirnya aku nggak cuma yapping tapi speaking pakai struktur. Terlalu berdedikasi sampai-sampai jadi peserta terbaik nomor 2 kali ini, wkwk.  Untuk menyemarakkan Ramdhan kali ini, aku juga journaling bareng kawanku, Ghaida dan Ninda. Tema t...

Tidak Apa-apa, Kan?

Katanya,   frontal lobe berkembang maksimal di umur 25 tahun, sepertinya hal itu sedang terjadi padaku. Aku baru saja punya tujuan besar yang ingin aku capai. Aku baru saja mendeklarasikan bahwa aku menemukan cita-citaku. Dan aku baru menyadari bahwa cita-cita inilah yang sejak kecil aku inginkan, ternyata tidaklah mustahil untuk dikejar.  Dulu, ah dulu itu terlalu jauh. Tahun 2024, kukira hidupku sudah buntu. I thought it was the ending of my "own" life.  Aku diberi tanggung jawab masalah besar yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang lama. Kukira kehadiranku itu tujuannya memang untuk menghadapi masalah itu.  Tetapi, lama kelamaan aku merasa lelah. Lelah karena hidup monoton tanpa ada keinginan berarti. Setiap hari pergi bekerja, pulang, bekerja, pulang. Aku lelah, hingga pada suatu waktu aku menyadari bahwa ini bukanlah hidup yang aku dambakan, bukan seperti ini hidup ideal yang sejak dulu aku imajinasikan. Aku terkurung pemikiranku sendiri bahwa oran...

Writing Slump

Aku menulis ini untuk memecah writing slump yang sepertinya terlalu lama. Aku tidak produktif dalam menulis. Berkali-kali aku brainstorming menuliskan banyak ide tulisan, tetapi tidak ada yang berhasil menjadi karya.  Aku buntu. Kehilangan rasa menikmati waktu yang kuhabiskan untuk menulis. Atau mungkin merasa paling sibuk.  2026 ini aku belum menulis apa-apa. Ini tulisan pertamaku. Padahal sepanjang 2025 aku menulis di banyak platform (kamu bisa lihat apa saja yang aku tulis di linktr.ee/sirayustika ). Sudah memasuki bulan kedua di 2026, tetapi baru inilah tulisan yang bisa kuselesaikan dan bisa kuunggah. Semoga tulisan ini bisa memcah kebuntuan dan mengembalikan rasa bahagia menghabiskan waktu untuk membuat sebuah tulisan.

Rasa Ikhlas dan Periode Menerima

Sebuah pelajaran beharga. Setelah melihat sisi lain dari salah satu orang yang aku jadikan panutan (setidaknnya dalam hal akademis) ternyata memiliki sisi  struggling juga dalam hidupnya. Aku tidak sengaja mengetahui bahwa karir yang sedang dia bangun, ternyata sejak awal sudah memiliki kendala.  Hebatnya yang kulihat sejauh ini, dia masih melanjutkan apa yang dia usahakan. Ternyata dia memiliki opsi untuk mengatasi hambatan tersebut. Aku... Aku sendiri merasa sayang akan potensi. Jujur setelah menyadari beberapa hal, aku menyesal. Mengapa aku tidak memaksa maju sedikit lagi. Sedikit saja. Tetapi ternyata aku kalah oleh banyak hal yang aku pikirkan. Menggerogoti kepercayaan diri. Hingga merasa rendah, akankah aku mampu? Tolong doakan aku untuk kembali memulai ulang mindset , menumbuhkan kembali semangat, dan menguatkan pikiran serta tekad.  Kita semua boleh. Kita semua mampu. Kita semua layak.